Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Tipe Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Mninat Belajar Kimia Siswa

semuanya Deden Mulyadi

Alumni UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta 

Prodi pendidikan kimia-2007

ABSTRAK

 

Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Minat Belajar Kimia. Skripsi. Jurusan Pendiikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan minat belajar kimia siswa sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Penelitian ini dilakasanakan di SMA Islam Al-Mukhlishin Ciseeng – Parung, Bogor pada bulan November sampai dengan Desember 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen tunggal. Sampel diambil satu kelas tanpa melakukan pengambilan sampel secara acak yaitu pada kelas X3. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala minat, dengan melakukan pretes dan postes. Dan hasilnya di uji dengan Uji-t. Dari hasil perhitungan diperoleh t hitung sebesar 7,3 sedangkan t tabel pada taraf signifikasi 5 % adalah 2,04 dan pada taraf signifikasi 1 % adalah 2,76. Maka dapat disimpulkan bahwa Ho yang menyatakan tidak terdapat peningkatan minat sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran koopereatif tipe investigasi kelompok ditolak, dan Ha yang menyatakan terdapat peningkatan minat sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran koopereatif tipe investigasi kelompok diterima. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model ini membawa pengaruh yang signifikan terhadap minat belajar kimia siswa. full text

 

 

 

 

Baca lebih lanjut

Perbedaan Hasil Belajar Kimia Siswa yang Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Grup Investigasi dengan STAD

Muhammad Syahrul

Alumni UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta

Prodi pendidikan kimia-2007

 

 

ABSTRAK

 

Perbedaan Hasil Belajar Kimia Siswa Antara Yang Mengunakan Pembelajaran Kooperatif Learning Tipe Grup Investigasi Dengan STAD. Skripsi. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar kimia siswa antara yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Grup investigasi dengan STAD. Penelitian ini dilakasanakan di SMA Islam Al-Mukhlishin Ciseeng – Parung, Bogor pada bulan November sampai dengan Desember 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu. Sampel diambil dengan cara random dari sampel yang tersedia. Sampel yang tersedia yaitu sebanyak 4 kelas, terdiri dari X.1, X.2, X.3 dan X.4. Setelah dilakukan pengundian ternyata didapat X.1 dan X.2 yang menjadi objek penelitian. Hasilnya diuji dengan uji t, diperoleh harga t hitung = 3,88 sedangkan t tabel = 2,04 pada taraf signifikansi 5%. Karena t hitung  > t tabel (3,88 > 2,04), maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan tidak ada perbedaan hasil belajar kimia siswa yang diajar dengan menggunakan metode STAD dengan yang mengggunakan metode grup Investigasi ditolak, sedangkan hipotesis penelitian (Ha) yang menyatakan ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan metode STAD dengan yang menggunakan metode grup investigasi diterima.

full file syahrul

Daya Ikat dan Penentuan Profil Protein Bakteri yang Tercemar Merkuri dalam Sedimen Sungai Tajum Kecamatan Ajibarang

Baca lebih lanjut

Penentuan Laju Korosi Logam Zirkaloi, Besi dan Seng Dalam Air, Asam Nitrat dan Asam Klorida dengan Potensiostat PGS-201T

Eli Apriliana Tri Susanti *)

 

LATAR BELAKANG

Korosi atau secara awam lebih dikenal dengan istilah perkaratan, merupakan fenomena kimia pada bahan-bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan yang mengandung air dan oksigen. Faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap peristiwa korosi adalah gerakan dari logam di dalam suatu media.

Menurut Fontana1, korosi adalah peristiwa perusakan logam karena berinteraksi dengan lingkungan ketika logam dipakai atau dioperasikan. Peristiwa ini seringkali terjadi di berbagai sektor kehidupan, utamanya di lingkungan industri yang cukup banyak menggunakan logam seperti industri kimia, petrokimia serta sejumlah industri infrastuktur.

Korosi dapat menimbulkan kerugian ekonomis bahkan membahayakan keselamatan manusia. Dari segi ekonomi, penyelesaian masalah korosi sangat mahal karena menyangkut umur, penyusutan dan efisiensi pemakaian suatu bahan peralatan dalam kegiatan industri. Pada tahun 1980, institute Battelle menaksir bahwa setiap tahun perekonomian Amerika Serikat rugi 70 miliar dolar akibat korosi. Milyaran dolar AS telah dibelajakan setiap tahunya untuk merawat peralatan perkantoran, kendaraan bermotor, mesin2 industri serta pealatan elektronik lainya agar konstruksi bertahan lebih lama. Korosi juga sangat memboroskan SDA dan korosi sangat tidak nyaman bagi manusia., dan kadang-kadang mendatangkan maut. Tahun 1985, atap sebuah kolam renang berusia 13 tahun di Swiss runtuh, menewaskan banyak orang dan melukai banyak orang lainya,. diperkirakan penyebabnya adalah korosi pada baja tahan karat terbuka yang menyokong 200 ton atap beton bertulang2.

Melihat fenomena tersebut, maka kajian tentang korosi logam sangat perlu dilakukan karena logam banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kerugian ekonomis yang ditimbulkan sangat besar bahkan membahayakan keselamatan manusia. Berdasarkan kebutuhan untuk memperoleh logam yang tahan korosi, maka perlu dilakukan penelitian tentang daya tahan logam terhadap korosi.

Penelitian ini mencoba untuk mengkaji korosi pada logam yang cukup banyak digunakan, seperti zirkaloi, besi dan seng dengan menggunakan alat Potensiostat. Potensiostat merupakan peralatan elektronik yang memakai potensial atau tegangan listrik terkontrol untuk diberikan kepada spesimen uji sewaktu dilakukan pengukuran arus pada spesimen.

 

 ALAT DAN BAHAN

Bahan yang digunakan adalah logam zirkaloi, Fe, Zn, akuades, asam nitrat 65% dan asam klorida 37%.

Alat yang digunakan adalah Potensiostat PGS 201T, dirangkai/ dihubungkan dengan computer. elektroda kerja, elektroda pembanding kalomel, elektroda pembantu platina, sel elektrokimia yang semuanya buatan Tacussel Electronique, amplas ukuran grade halus 600 mesh, dan alat-alat gelas.   

 

METODE

Ø      Persiapan pembuatan bahan uji

Ø      pembuatan larutan HNO3 encer

Ø      pembuatan larutan HCl encer

Ø      Penentuan kuat arus korosi (Ikor)

 

KESIMPULAN

1.      Logam zirkaloi sangat tahan terhadap korosi. Hal ini terlihat dari nilai laju korosi yang kecil. Laju korosi dalam air sebesar 0,5072 mpy. Pada konsentrasi asam nitrat dan asam klorida mengalami kenaikan laju korosi seiring dengan penambahan konsentrasi.

2.      Logam besi dalam air mempunyai laju korosi sebesar 0,8643 mpy. Laju korosi dalam konsentrasi nitrat dan klorida meningkat seiring penambahan konsentrasi.

3.      Logam seng dalam air, mempunyai laju korosi sebesar 0,2080 mpy. Logan Zn pada konsentrasi nitrat dan klorida mengalami kenaikan laju korosi seiring dengan penambahan konsentrasi.

4.      Semakin tinggi konsentrasi suatu media cair yang digunakan sebagai bahan lingkungan yang mengkorosikan suatu logam akan semakin besar pula laju korosinya dan potensialnya akan semakin rendah atau lebih negatif. Karena semakin tinggi konsentrasi asam yang digunakan, maka semakin banyak ion hidrogen yang bereaksi dengan logam.

 

PUSTAKA

Fontana, M.G.Corrosion Engineering. Third Ed. Mc Graw Hill Book Company, Inc. Tokyo

 

Threthewey and J Chamberlain. 1991. Korosi untuk Mahasiswa dan Rekayasawan. PT Gramedia Pustaka Utama

 

*) Alumni UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman)

e-mail : sance_maruje@yahoo.com

Penurunan Kadar TSS, BOD dan COD Limbah Industri Tahu Dengan menggunakan Arang Aktif Kulit Kacang Tanah

Kartika Luhardikusumah, S.Si *)

LATAR BELAKANG

Kemajuan sektor industri di Indonesia telah memberi kemakmuran bagi sebagian besar masyarakat seperti tersedianya kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan daerah dan produksinya sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas (Gintings, 1995). Kemajuan yang diciptakan oleh kegiatan industri dapat juga memberi efek buruk bagi lingkungan. Adanya pencemaran lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari proses industri mengakibatkan terganggunya keseimbangan lingkungan.

Salah satu industri yang berkembang pesat adalah industri pangan. Proses produksi industri pangan menghasilkan sisa produk atau limbah. Limbah industri pangan dapat menimbulkan masalah dalam penangananya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat,  protein, lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan. Sebagai contoh, limbah dari industri susu, pembekuan dan pengeringan makanan, industri pengolahan daging, unggas dan hasil laut dapat menimbulkan bau yang tidak diinginkan dan polusi berat pada perairan bila pembuanganya tidak diberi perlakuan yang tepat (Jenie dan Rahayu, 1990).

Limbah industri pangan yang menimbulkan masalah, sebagian besar berasal dari limbah cairnya. Salah satu industri pangan yang menghasilkan limbah adalah industri tahu. Masalah yang ditimbulkan dari kegiatan industri tahu terhadap lingkungan sudah selayaknya diperhatikan dan dikendalikan. Pencemaran limbah industri tahu jika tidak ditangani dengan serius akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.

Berbagai metode telah dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi cemaran logam berat, senyawa organik dan anorganik limbah cair industri. Metode yang paling sederhana dan murah adalah pengolahan secara fisika dengan menggunakan adsorben arang aktif. adsorben arang aktif dapat digunakan untuk mengurangi bahan organik dan anorganik (Sugiharto, 1987).

Sebagian besar kebutuhan arang aktif di Indonesia masih diimpor, padahal bahan baku arang aktif yang tersedia melimpah diantaranya sekam padi, tulang, kayu lunak, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas tebu, serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas, kayu keras dan batu bara (Sembiring dan Sinaga, 2003). Pengembangan arang aktif akan memiliki arti penting untuk meningkatkan daya guna bahan baku yang kurang atau tidak termanfaatkan sebelumnya. Sehubungan dengan hal ini, maka dibutuhkan bahan yang berpotensi menghasilkan arang aktif berkualitas, misalnya kulit kacang tanah.

METODE

1.   Pembuatan arang aktif (SII 0258-89)

Kulit kacang tanah dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian direndam ke dalam larutan HCl 3,84 M selama 4jam. Kulit kacang tanah yang telah direndam, diambil dan dicuci dengan akua DM hingga netral.

Setelah dicuci, kulit kacang tanah dikeringkan dalam oven dengan suhu 1050 C selama 3 jam. Kulit kacang tanah yang sudah kering diarangkan dalam muffle furnace pada suhu 3500 C selama 3,5 jam. Arang yang terbentuk didinginkan dalam dsikator. Arang aktif kemudian dihaluskan dan diayak pada ukuran 35, 50 dan 100 mesh.

2.  Analisis arang aktif (SII 0258-89)

·          Rendemen

Rendemen arang aktif dihitung dengan cara membandingkan antara bobot bahan baku dengan bobot arang aktif setelah karbonisasi.

Rendemen (%) =  b/a x 100 %

a= bobot bahan baku yang diarangkan (g)

b=bobor arang yang dihasilkan (g)

·          Penentuan kadar air

Kadar air (%) = (a-h)/a x 100%

a= bobot arang mula-mula (g)

b= bobot arang setelah dikeringkan (g)

·          Penentuan kadar abu

Kadar abu (%) = a/b x 100 %

a= bobot abu (g)

b= bobot arang kering awal (g)

·          Daya serap terhadap iodium = (((10-N xV)/0,1) / s ) x 12,69 x 5

V = larutan Na2S2O3 yang diperlukan (mL)

N = normalitas larutan Na2S2O3

S = bobot contoh (g)

12,69 = jumlah iod sesuai dengan I ml larutan Na2S2O3 0,1N

 

3.  Penetapan waktu kontak optimum

100 mL air limbah dikontakkan dengan 0,2 g arang aktif kulit kacang tanah dengan variasi ukuran partikel 35, 50 dan 100 mesh menggunakan metode batch dengan variasi waktu kontak 0, 5, 10, 20, 45, 75 dan 105 menit.

4. Metode analisis (APHA, 1985)

·          Penentuan DO

Kadar O2 (ppm) = ((mL x N) pentiter x 8000) / mL sample -2

DO = kadar O2 (ppm) x faktor pengenceran

·          COD = ((A-B) x N x 8000) / mL sample dimana A = pentiter untuk blangko, B = mL pentiter untuk sample dan N= nprmalitas Na2S2O3

·          TSS = (b-a) x (1000/100) mg /L

KESIMPULAN

  • Arang aktif dari kulit kacang tanah mempunyai rendemen, kadar air, kadar abu dan daya serap terhadap iodium masing-masing sebesar 15,9018 %; 8,0649 %; 0,6075 %; dan 762,2751 mg/g.
  • Waktu kontak optimum 75 menit dan ukuran partikel optimum 100 mesh dari arang aktif kulit kacang tanah mampu menurunkan kadar BOD sebesar 88,71 %; COD sebesar 43 %; dan TSS sebesar 60,33 %.
  • Penurunan kadar BOD, COD dan TSS limbah cair industri tahu oleh arang aktif kulit kacang tanah masih melebihi Baku Mutu Air Limbah Industri Tahu yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah.  

 

*) Alumni UNSOED – skripsi, cp : sri purwani- 081327585190