Penurunan Kadar TSS, BOD dan COD Limbah Industri Tahu Dengan menggunakan Arang Aktif Kulit Kacang Tanah

Kartika Luhardikusumah, S.Si *)

LATAR BELAKANG

Kemajuan sektor industri di Indonesia telah memberi kemakmuran bagi sebagian besar masyarakat seperti tersedianya kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan daerah dan produksinya sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas (Gintings, 1995). Kemajuan yang diciptakan oleh kegiatan industri dapat juga memberi efek buruk bagi lingkungan. Adanya pencemaran lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari proses industri mengakibatkan terganggunya keseimbangan lingkungan.

Salah satu industri yang berkembang pesat adalah industri pangan. Proses produksi industri pangan menghasilkan sisa produk atau limbah. Limbah industri pangan dapat menimbulkan masalah dalam penangananya karena mengandung sejumlah besar karbohidrat,  protein, lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan. Sebagai contoh, limbah dari industri susu, pembekuan dan pengeringan makanan, industri pengolahan daging, unggas dan hasil laut dapat menimbulkan bau yang tidak diinginkan dan polusi berat pada perairan bila pembuanganya tidak diberi perlakuan yang tepat (Jenie dan Rahayu, 1990).

Limbah industri pangan yang menimbulkan masalah, sebagian besar berasal dari limbah cairnya. Salah satu industri pangan yang menghasilkan limbah adalah industri tahu. Masalah yang ditimbulkan dari kegiatan industri tahu terhadap lingkungan sudah selayaknya diperhatikan dan dikendalikan. Pencemaran limbah industri tahu jika tidak ditangani dengan serius akan berpotensi untuk mencemari lingkungan.

Berbagai metode telah dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi cemaran logam berat, senyawa organik dan anorganik limbah cair industri. Metode yang paling sederhana dan murah adalah pengolahan secara fisika dengan menggunakan adsorben arang aktif. adsorben arang aktif dapat digunakan untuk mengurangi bahan organik dan anorganik (Sugiharto, 1987).

Sebagian besar kebutuhan arang aktif di Indonesia masih diimpor, padahal bahan baku arang aktif yang tersedia melimpah diantaranya sekam padi, tulang, kayu lunak, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas tebu, serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas, kayu keras dan batu bara (Sembiring dan Sinaga, 2003). Pengembangan arang aktif akan memiliki arti penting untuk meningkatkan daya guna bahan baku yang kurang atau tidak termanfaatkan sebelumnya. Sehubungan dengan hal ini, maka dibutuhkan bahan yang berpotensi menghasilkan arang aktif berkualitas, misalnya kulit kacang tanah.

METODE

1.   Pembuatan arang aktif (SII 0258-89)

Kulit kacang tanah dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian direndam ke dalam larutan HCl 3,84 M selama 4jam. Kulit kacang tanah yang telah direndam, diambil dan dicuci dengan akua DM hingga netral.

Setelah dicuci, kulit kacang tanah dikeringkan dalam oven dengan suhu 1050 C selama 3 jam. Kulit kacang tanah yang sudah kering diarangkan dalam muffle furnace pada suhu 3500 C selama 3,5 jam. Arang yang terbentuk didinginkan dalam dsikator. Arang aktif kemudian dihaluskan dan diayak pada ukuran 35, 50 dan 100 mesh.

2.  Analisis arang aktif (SII 0258-89)

·          Rendemen

Rendemen arang aktif dihitung dengan cara membandingkan antara bobot bahan baku dengan bobot arang aktif setelah karbonisasi.

Rendemen (%) =  b/a x 100 %

a= bobot bahan baku yang diarangkan (g)

b=bobor arang yang dihasilkan (g)

·          Penentuan kadar air

Kadar air (%) = (a-h)/a x 100%

a= bobot arang mula-mula (g)

b= bobot arang setelah dikeringkan (g)

·          Penentuan kadar abu

Kadar abu (%) = a/b x 100 %

a= bobot abu (g)

b= bobot arang kering awal (g)

·          Daya serap terhadap iodium = (((10-N xV)/0,1) / s ) x 12,69 x 5

V = larutan Na2S2O3 yang diperlukan (mL)

N = normalitas larutan Na2S2O3

S = bobot contoh (g)

12,69 = jumlah iod sesuai dengan I ml larutan Na2S2O3 0,1N

 

3.  Penetapan waktu kontak optimum

100 mL air limbah dikontakkan dengan 0,2 g arang aktif kulit kacang tanah dengan variasi ukuran partikel 35, 50 dan 100 mesh menggunakan metode batch dengan variasi waktu kontak 0, 5, 10, 20, 45, 75 dan 105 menit.

4. Metode analisis (APHA, 1985)

·          Penentuan DO

Kadar O2 (ppm) = ((mL x N) pentiter x 8000) / mL sample -2

DO = kadar O2 (ppm) x faktor pengenceran

·          COD = ((A-B) x N x 8000) / mL sample dimana A = pentiter untuk blangko, B = mL pentiter untuk sample dan N= nprmalitas Na2S2O3

·          TSS = (b-a) x (1000/100) mg /L

KESIMPULAN

  • Arang aktif dari kulit kacang tanah mempunyai rendemen, kadar air, kadar abu dan daya serap terhadap iodium masing-masing sebesar 15,9018 %; 8,0649 %; 0,6075 %; dan 762,2751 mg/g.
  • Waktu kontak optimum 75 menit dan ukuran partikel optimum 100 mesh dari arang aktif kulit kacang tanah mampu menurunkan kadar BOD sebesar 88,71 %; COD sebesar 43 %; dan TSS sebesar 60,33 %.
  • Penurunan kadar BOD, COD dan TSS limbah cair industri tahu oleh arang aktif kulit kacang tanah masih melebihi Baku Mutu Air Limbah Industri Tahu yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah.  

 

*) Alumni UNSOED – skripsi, cp : sri purwani- 081327585190

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!http://www.infogue.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: